MALUKU PUSAT REMPAH-REMPAH

DAN PENGARUHNYA DALAM ERA NIAGA SEBELUM ABAD KE-19

Berita Maluku – Sebelum kedatangan bangsa Barat, pekerjaan perdagangan di distrik kepulauan Nusantara sudah berkembang menjadi wilayah perniagaan internasional. Jalur perniagaan melewati darat dibuka dari Cina (Tiongkok) melewati Asia Tengah, Turkestan hingga ke Laut Tengah. Jalur ini juga bersangkutan dengan jalan-jalan kaflah dari India. Jalur ini familiar dengan sebutan “Jalur Sutra” (silk road). Sejauh ini, jalur perniagaan lewat darat berikut yang adalahjalur sangat tua, yang menguntungkan Cina dengan Eropa.

Adapun jalan perniagaan melewati jalur laut juga dibuka dari Cina malalui laut Cina, Selat Malaka, Calicut (India), kemudian ke Teluk s, melewati Syam (Suriah) hingga ke Laut Tengah; atau melewati Laut Merah hingga ke Mesir, lalu mengarah ke Laut Tengah (Van Leur 1967). Pada waktu tersebut komoditas ekspor dari distrik Nusantara yang hingga di pasaran India dan Kekaisaran Romawi (Byzantium), antara lain; rempah-rempah, kayu wangi, kapur barus, kemenyan, gaharu (lignum aloes), kayu manis hijau, cengkeh yang biasa dinamakan oleh orang Tiongkok “dupa kayu”.

Kelompok dagang Asia bisa digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu; kumpulan finansir, yakni orang-orang kaya, hartawan yang memasukkan dananya ke dalam dunia perniagaan secara incidental. Kelompok berikutnya ialah para pedagang kelontong atau saudagar keliling. Mereka ini bisanya adalahpemilik modal yang ikut langsung dalam dunia perniagaan dengan teknik ikut berlayar berkeliling menjajakan dagangan dagangannya. Oleh sebab tersebut bahasa puitis guna jalur rempah-rempah ini disebut spice route. Perjalanan dari satu pelabuhan lokasi pemberangkatan ke pelabuhan beda sebagai destinasi perdagangan tersebut umumnya memakan masa-masa yang relatif lama. Burger mencerminkan pelayaran dari Tonkin ke India memakan waktu selama 12 hingga 15 bulan. Dari Kanton ke Palembang ditempuh selama 20 hari hingga dengan satu bulan. Adapun dari Aceh ke Cina memakan waktu selama 20 hingga dengan 30 hari. Dengan sendirinya ongkos angkut barang tersebut menjadi lumayan tinggi, sampai-sampai harga jual barang barang-barang itupun menjadi tinggi pula alias mahal. Ternyata dari harga yang relative mahal itu, semua pendagang mendapat keuntungan yang lumayan tinggi pula. Namun yang lebih utama lagi bahwa disepanjang jalur ini sudah terjadi pertukaran sekian banyak produk kebiasaan yang mempunyai sifat halus laksana wacana lisan, music, tari-tarian, sekian banyak jenis pertunjukkan dan adat kelaziman maupun yang sama sekali tidak tampak secara kasat mata seperti; sekian banyak macam gagasan, nilai, kaidah-kaidah mitos, legenda sekian banyak macam kandungan sastra. Oleh karena itulah laut, selat, tanjung, padang pasir, steppa, adalahjalur-jalur penghubung dan pertemuan serta dialog yang sangat memprovokasi proses saling membuahi antara satu kebiasaan dengan kebiasaan lain sepanjang jalur tersebut, Tidak dapat dibantah lagi bahwa Maluku khususnya Banda, Ternate, Tidore maupun Bacan adalahpangkalan urgen dalam jalur perniagaan dan pelayaran antar bangsa. Lokasinya adalahjalur yang menghubungkan antara Jawa dan Sulawesi dan sudah tercipta sebuah peninggalan-peninggalan sejarah dan kepurbakalaan, kesenian yang adalahbukti mengenai masuknya ragam ragam kebudayaan dari sekian banyak penjuru dunia laksana Arab, Cina, India dan Eropa.

Berdasarkan keterangan dari Van Leur (1967), pada masa kerajaan lama, baik pada masa kejayaan Hindu, Budha, maupun Islam, pengaruh raja ataupun sultan sebagai kepala negara dalam dunia perdagangan lumayan besar. Mereka beraksi tidak melulu ketenteraman atau penarik pajak, tetapi tidak jarang juga beraksi sebagai “pemegang saham”. Oleh sebab itu, pada dasarnya dunia perniagaan di distrik Nusantara pada waktu tersebut telah memiliki sifat kapitalis, atau tepatnya sifat kapitalis politik.

Rempah-rempah hasil Maluku pula dan cengkeh adalahpetunjuk urgen untuk mengetahui apabila Maluku menyelenggarakan hubungan dengan dunia luar. Sebab menurut keterangan dari para berpengalaman tumbuh-tumbuhan, tanah asal rempah-rempah ialah Maluku khususnya Maluku Tengah dengan palanya dan Maluku Utara dengan cengkehnya. Orang Tionghoa melulu mengetahui bahwa cengkeh dari Maluku saja dalam sejarah raja-raja Ming selama abad XVI hingga dengan 1644 terdaftar bahwa Maluku satu-satunya Negara Timur yang memproduksi cengkeh. Hal ini didukung oleh berita Romawi mengenai cengkeh yang dinamakan garyophyllon adalahtumbuhan sakti, yang disebutkan berasal dari India. Sehingga bisa ditarik benang merah bahwa orang Eropa sudah mengenal cengkeh semenjak abad kedua Masehi.

Dari berita-berita yang ada itu dapat ditafsirkan bahwa pelayaran ke Maluku memang belum dilaksanakan secara langsung, namun Maluku sudah dikenal oleh semua pedagang dari Arab, Eropa dan Timur Tengah terputama hasil alamnya. Hasil dari tanah kepulauan ini dipungut dari pelabuhan-pelabuhan besar di sebelah barat. Hal ini dapat diperlihatkan karena disebelah barat sudah berkembang kerajaan maritime dengan pelabuhan besar yakni Sriwijaya. Seperti yang diajukan oleh Ibrahim bin Wasif-sah bahwa Djaba menghasilkan cengkeh seperti pun dari wilayah maharaja (Maharaja: Sriwijaya).

Perdagangan Masa Sriwijaya dan Majapahit

Kerajaan Sriwijaya adalahsalah satu kerajaan pantai yang kekuatan ekonominya bertumpu pada perniagaan internasional. Kerajaan itu bersangkutan dengan jalan raya perniagaan internasional Cina ke Eropa melewati Selat Malaka. Secara lengkap, jalur perniagaan Asia melewati laut itu dibuka dari Cina melewati Cina Selatan, Selat Malaka, India hingga ke Teluk Persia. Kemudian dari Persia disambung melewati jalur darat mengarah ke Syam (Suriah) yang diteruskan hingga dengan Laut Tengah. Dari Laut Tengah ini dagangan komoditas ekspor Nusantara bersama-sama dengan dagangan Asia lainnya disebarkan ke distrik Eropa.

Sriwijaya tumbuh dan berkembang menjadi pusat perdagangan di dekat Selat Malaka. Pada tahun 767 contohnya Sriwijaya merampas Tonkin (Indocina, Hindia Belakang). Di samping itu, Sriwijaya menguasai Semenanjung Malaka dan Genting Kra. Kontak melaui dunia perdagangan ini mengakibatkan Nusantara bersentuhan dengan kemajuan Hindu-Buddha (India). Konfusianisme dan Taoisme (Cina), serta Islam (Timur Tengah), sampai-sampai memperkaya kebiasaan penduduknya. Nusantara, tergolong Sriwijaya, bahkan hingga dengan Tumasik. Akhirnya eksistensi Sriwijaya sungguh-sungguh hilang sesudah Majapahit mengirimkan pengiriman ke distrik itu.

Dalam berita perjalanan, Marcopolo menyinggung Tumasik dan Kerajaan Samudra Pasai sebagai kerajaan yang mengakui dominasi Majapahit. Pada waktu tersebut Pasai adalahkerajaan Islam, sementara Majapahit adalahkerajaan Hindu-Buddha. Sebagai pusat perdagangan, Samudra Pasai tidak sedikit menk (Pantura) Jawa. (Tome Pires dalam Suma Oriental II, hlm,239) memperkirakan Pasai mengekspor merica kira-kira 8000 hingga dengan 10.000 bahar masing-masing tahun, bahkan hingga dengan 15.000 bahar andai sedang musim panen yang melimpah. Di samping mengekspor merica, Pasai pun mengekspor sutra, kapur barus, dan emas yang didapatkan dari wilayah pedalaman. Kemampuan orang-orang Pasai dalam memproses sutra diperoleh dari orang-orang Cina (Tome Pires dalam Suma Oriental II, hlm,90). Salah satu sumber mengungkapkan bahwa sebelum dating bangsa Barat ke distrik Nusantara, Sultan Pasai pernah berjanji akan memberikan produksi sutra Pasai untuk mereka guna diekspor (Meilink Roelofsz 1962;350)

Berdasarkan keterangan dari Tome Pires (dalam Suma Oriental I, hlm,44), semua pedagang Jawa menemukan hak istimewa dalam berniaga di Bandar samudera Pasai, yaitu dalam format pembebasan bea cukai impor maupun ekspor atas barang barang-barang yang mereka bawa. Pada masa tersebut Kerajaan Majapahit sudah menjadi suatu kerajaan yang lengkap, baik dalam struktur pemerintahan maupun birokrasinya. Sejak tahun 1293 hingga sekitar tahun 1500, MAjapahit tampil sebagai pengganti Sriwijaya. Perniagaannya tidak terbatas pada perniagaan dan pelayaran pantai saja, tetapi pun perdagangan seberang laut melaui Malaka ke Samudera Hindia.

Leave a Comment